Selamat Datang di Blog Saya

Di tulis oleh seorang alumni SMA Global Islamic Boarding School.

Berjuang di jalan Allah

Menegakkan kalimat la ilaha illa allah di muka bumi.

Tolong Menolong Dalam Kebaikan

Karena sebaik-baiknya manusia, adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Berjuanglah

Dan ketahuilah, bahwa surga terletak di bawah bayang-bayang mata pedang (HR. Bukhari).

Bersama Mencari Ilmu yang Bermanfaat

Dan sampaikanlah ilmu itu walau hanya satu ayat.

Tampilkan postingan dengan label Islamic Post. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamic Post. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Februari 2017

NEGERIKU KAYA RAYA

(Sumber gambar : google)

Bukan lautan tapi kolam susu

Kail dan jala cukup menghidupimu

Tiada badai, tiada topan kau temui

Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Lirik lagu diatas cukup mempresentasikan betapa indah dan kayanya negeri kita Indonesia. Mulai dari lautnya yang luas, jutaan pulau, Triliunan cadangan ikan yang beragam, hutan dengan sejuta jenis pohon didalamnya. Cadangan minyak, gas, emas, batubara, hingga perkebunan sawit, karet,  persawahan, kebun teh, buah-buahan, semua ada di Indonesia. Sandang, pangan, papan, kebutuhan pokok hingga kebutuhan tambahan semua bisa terpenuhi di Negeri ini. Bukan hanya isapan jempol belaka jika negeri ini disebut sebagai tanah surga. Selain sumber daya alamnya, Indonesia juga memiliki sumber daya manusia yang cukup besar, negara dengan jumlah populasi manusia terbesar ketiga di dunia. Dari segi sastra juga tidak kalah, ada lebih dari 700 jenis bahasa dengan berbagai macam suku. Yang mana semua ini di ikat dalam satu tali persaudaraan yang disebut dengan “Binneka Tunggal Ika” Berbeda-beda namun satu jiwa.

Selain itu, Indonesia juga merupakan negara dengan mayoritas umat Islam didalamnya, bahkan populasi muslim terbesar berada di Indonesia. Berbagai macam mesjid mulai dari yang kecil sederhana hingga yang besar tinggi menjulang mengisi setiap sudut kota. Madrasah, pondok pesantren, hingga universitas Islam juga tersebar diberbagai kota di Indonesia. Uniknya juga ada suatu daerah yang diberi keistimewaan dimana warganya diwajibkan untuk mentaati syariat Islam. Maka tak bisa dipungkiri bahwa ajaran dan budaya Islam begitu kental menghiasi tanah air tercinta. Tak ayal ada yang menyebut bahwa Indonesia merupakan negara Islam, dari segi jumlah penduduk. Juga pernah diabadikan dalam piagam jakarta sila pertama yakni : Ketuhanan yang maha esa, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

Namun ternyata segala macam kekayaan yang telah disebutkan diatas hanya dirasakan oleh sebagian kecil dari kita. Indonesia memiliki banyak jenis makanan, namun banyak yang tak bisa memakan makanan yang layak. Orang Papua hidup dan tidur diatas emas, tapi sedikit saja  dari mereka yang bisa menikmati hasilnya, bahkan saking sedikitnya tak ayal ada yang menyebutnya tak menikmati sepeserpun. Cadangan minyak, batu bara, dan gas yang melimpah ruah namun begitu mahal untuk didapatkan. Jutaan hektar kebun dan persawahan, namun tak sedikit rakyat yang kesusahan memperolehnya. Jutaan kilometer sungai tersebar, namun tak sedikit juga yang kesusahan untuk mendapatkan air bersih sekedar untuk minum atau mandi. Padahal dalam sila kelima menyatakan bahwa Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Maka sudah seharunya rakyat berhak mendapatkan hasil alam dari negerinya sendiri. Apa yang ada di bumi Indonesia ini yang sudah semestinya pertamakali menikmatinya adalah mereka yang lahir, hidup dan mengabdi di bumi Indonesia. Lalu 700 ratus bahasa dan berbagai macam suku tersebar dan terikat dalam kalimat “Binneka tunggal ika” namun tak sedikit dari mereka yang berseteru hanya karena masalah kesukuan.

Milyaran umat Islam tersebar, dengan jutaan masjid yang bahkan berjalan kaki saja dengan mudah kita temui tapi hanya segelintir yang mampu menggerakan kakinya ke masjid untuk menjalankan sholat subuh berjamaah. Bahkan tak jarang sholat subuh kurang dari 3 shaf depan. Padahal tatkala sholat Jumat atau dua hari raya besar umat Islam, banyak masjid bahkan hampir tidak muat menampung jamaah yang membeludak. Bukti bahwa begitu banyaknya umat Islam di negeri ini. Padahal jika kita pikirkan sudah seharusnya umat Islam yang banyak ini, memberikan pengaruh yang besar dalam menuntaskan permasalahan dinegeri ini. Sebagaimana firman Allah bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat bagi alam semesta. Dan sudah semestinya tugasnya sebagai khalifah dimuka bumi, untuk mensejahterakan umat manusia. Bukan malah berbuat kerusakan, serakah dan ingin menang sendiri.

Dan(ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Aku hendak menjadikan dibumi ini khalifah”. Mereka berkata, “Apakah engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu?”. Dia berfirman, “Sesungguhnya, aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui”. (Al-Baqarah : 30)

            Islam sebagai agama yang sempurna sudah tidak asing lagi bagi kita hal ini di dasari oleh firman Allah.

.....Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu...(QS : Al-Maidah ayat 3)

Kemudian Islam juga agama yang membawa rahmat bagi seluruh Alam.

Dan kami telah mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam (QS Al-Anbiyaa : 107)

Selain itu Al-Qur’an juga menegaskan bahwa kaum muslim adalah sebaik-baiknya ummat.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah (QS Ali Imran :103)

Namun apa yang dilihat didepan mata justru berkebalikan dengan konsep yang diajarkan dijarkan. umat muslim menjadi kaum pesakitan yang terpuruk di tengah-tengah konstelasi dunia. Di negeri kita saja, umat muslim menjadi mayoritas yang terminorkan dalam berbagai aspek, baik secara ekonomi, politik, hukum, budaya, maupun pendidikan dan kesehatan. Data-data ini bahkan menunjukan keterpurukanya. 100 juta atau kurang lebih 50% penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan (standar kemiskinan 2USD per hari) berdasarkan (MI,2006). Pada tahun 2007 KPAI menyatakan sekitar 11,7 juta anak putus sekolah. Tahun 2008 siswa SMP 97% diantaranya mengaku pernah menonton film porno 93,7 % Remaja smp mengaku pernah Happy Petting, 62,7% mengaku tidak perawan. Sekitar 2,6 juta balita di aborsi setiap tahun nya. Harian Republika mengeluarkan publikasi bahwa sekitar 1,3 juta penduduk di jakarta telah terjangkid AIDS pada tahun 1999. Lembaga demografi UI menyatakan bahwa 58,36 juta dari 111,47 juta(52,3%) pekerja di indonesia hanya berpendidikan setingkat SD, 19,91% setingkat SMP, 20,7% setingkat SMA dan hanya 5,05% Perguruan tinggi.

Lalu dimana peran umat Islam Indonesia yang membeludak banyaknya itu? Atau justru mayoritas muslim yang berada di bawah keterpurukan itu? Bukankah umat muslim merupakan umat terbaik? Namun kenapa justru yang terpuruk merupakan umat muslim itu sendiri? Padahal dulunya Islam pada masa-masa awal menunjukan taring dan masa keemasanya. Jika dipikir dengan nalarpun sekarang kita tak akan pernah terbayangkan, bahkan dunia pun takjub akan masa kejayaan itu. Tak lama setelah Islam disempurnakan, para khulafaurasyidin bisa sampai membebaskan imperium persia dan romawi, kemudia menyatukan keduanya. Padahal umur Islam yang disempurnakan syariaatnya itu bisa dibilang masih seumur jagung. Kemudian umat Islam memimpin dunia hingga masa Turki Utsmani tercatat luas wilayahnya sebesar 20 juta kilometer. Menyumbangkan peradaban yang maju dibidang imu pengetahuan, teknologi, dan tak lupa di bidang agama yang menjadi dasar pemikirannya.

            Salah satu jawaban untuk pertanyaan diatas tentunya adalah bukan ada yang salah dengan syariatnya. Tapi yang salah adalah manusianya, kebanyakan sudah lupa atau bahkan terpengaruh oleh gemerlapnya dunia. Terutama di jaman ini yang dimana perekonomian dikuasai oleh kaum kapitalis. Sehingga yang merasakan kenikmatan hanya mereka-mereka saja. Selain itu umat Islam sebagian juga merasa pasrah pada keadaan. Sangat disayangkan jika beberapa mengatakan begini “Sudahlah tak usah risau jika harga serba naik, rezeki ditangan tuhan” atau “Ini sudah takdir tuhan” menunjukan kalimat yang sangat pasrah, seakan tidak ada lagi usaha yang dapat menolong kita. Ada juga yang terdengar seperti ini, “Kami sudah terbiasa hidup susah, kalau hari ini gak bisa beli beras sekilo beli setengah kilo saja” dan sayangnya yang mengeluarkan kata seperti ini bukan dari mereka yang merasakan kepedihan hidup. Padahal jika anda menelusuk kedalam, justru mereka yang kesusahan dalam keadaan menangis. Beberapa diantaranya menangis tanpa air mata, karena sudah lelah menangis.

            Sabar itu dalam musibah, bukan dalam kedzoliman, Karena dalilnya jelas. Tolaklah kemungkaran dengan tanganmu, jika tak bisa maka dengan lisanmu, jika tak bisa juga maka tolaklah itu dengan hatimu, maka itu adalah serendah-rendahnya iman. Kira-kira begitu terjemahan haditsnya. Ketika pemerintah zolim maka ingatkan mereka, mereka bukan Rasul yang apabila salah langsung ditegur Allah SWT sehingga kita bisa Sami’na Wa Ata’na. Mereka manusia biasa yang bisa salah, sebagaimana imam dalam sholat ketika dia salah maka makmum yang berada dibelakang mengingatkan. Memang begitulah semestinya peran rakyat dalam pemerintahan. Terutama apabila dirinya seorang muslim, karena seorang muslim punya tanggung jawab kepada hal yang ada disekitanya.

“Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 18108, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 149)

Tak usah jauh menelisik ideologi sosialis Karl Max. Rasulullah lewat ajaran Islam jauh lebih baik dan lebih sempurna soal kemanusiaan. Dalam setiap ibadah dalam agama Islam punya pengaruh kedalam kehidupan sosial Sesunggunya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. melalui puasa kita diajarkan untuk memberi makan orang yang berbuka puasa yang artinya diajarkan untuk berbagi. Kemudian zakat, diberikan orang-orang yang membutuhkan. Lalu haji, Ciri-ciri orang yang hajinya diterima adalah bertambah kuat ibadahnya, artinya sholatnya, puasanya, zakatnya, sedekahnya. Bahkan dengan tegas Rasul mengatakan bahwa jika seseorang sholat namun lisanya menyakiti orang lain, maka tiada kebaikan padanya.

“Wahai Rasulullah, si Fulanah sering shalat malam dan puasa. Namun lisannya pernah menyakiti tetangganya. Rasulullah bersabda: ‘Tidak ada kebaikan padanya, ia di neraka’” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak 7385, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad 88)

Maka dari itu tolong menolonglah, jangan pisahkan kehidupan Ibadah hanya sebatas ritualis menggugurkan kewajiban belaka. Jangan pasrah dalam kedzoliman, bertindaklah. Coba baayangkan jika umat Islam yang banyak ini menjalankan semua ajaran dengan kaffah maka Insya’allah permasalahan kemiskinan dan yang lainya bisa diatasi. Perokok andai dia berhenti merokok, kemudian uang yang biasa dia pakai untuk membeli rokok ia belikan beras senilai 1kg niscaya manfaatnya lebih banyak ketimbang  merokok yang merusak dirinya sendiri. “Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka akan Allah gantikan sesuatu yang lebih baik padanya”

“...barangsiapa menolong kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya, Barangsiapa yang meringankan dari seorang mukmin satu kesulitan dan kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan ringankan untuknya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan Hari Kiamat.” (Muttafaq ‘alaihi)

Indonesia ini kaya, hanya tinggal pengelola dan rakyatnya saja yang perlu dibenahi cara memimpin dan cara berfikirnya. Dan umat Islam sudah seharusnya berada di garda terdepan dalam memajukan sebuah negara dan membela keadilan. Ingat! Indonesia ini dimerdekakan dengan kalimat takbir yang tak bisa terhitung berapa jumlahnya, para prajurit serta ulamalah yang berperan besar dalam jihad melawan penjajah.

Tak usah jauh-jauh meniru ideologi kiri, karena sesunggunya ajaran Islam sudah jauh lengkap membahas permasalahan sosial. Dengan ajaran yang lurus, tak perlu berbelok-belok. Contoh ketika sebelum menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW seorang saudagar kaya lagi jujur. Ketika diperintahkan menjadi Rasul yang pertama beliau lakukan adalah menyebarkan kalimat tauhid. Kemudian beliau sedekahkan seluruh hartanya untuk memerdekakan para budak, di Ikuti oleh Umar bin Khattab yang menyerahkan setengah hartanya. Juga Abu Bakar As Siddiq yang mewaqafkan seluruh hartanya membantu Rasulullah. Maka itulah yang seharusnya menjadi konsen masyarakat Islam saat ini, juga pemerintah yang memimpin. Bahwa kesejahteraan itu hal yang utama diatas kekuasaan, pemerintah harus rela ditegur, karena mereka tidak mutlak sempurna. Tapi herannya baru-baru ini malah muncul di Social Media pernyataan dari salah satu akun milik mereka yang berwenang menyatakan bahwa “Suka menulis? Awas! Tulisan opini berujung jeruji, berfikir sebelum menulis” seakan menandakan bahwa mereka tak mau ditegur, angkuh, merasa paling benar. Padahal menulis itu merupakan suatu ciri-ciri kemajuan suatu negara, lihat saja negara yang memiliki perpustakaan yang banyak, luas lagi lengkap kebanyakan adalah negara maju. Sungguh terlalu jika di Indonesia menuliskan opininya saja bisa berujung jeruji. “Naudzubillahi min dzalik”

Semoga dengan tulisan ini, bisa memberi sedikit ilmu kepada penulis dan pembaca sekalian. Kita selalu berdoa dan berusaha agar umat Islam bangkit dari keterpurukan. Musuh kita adalah kedzoliman dan ketidak adilan. Hanya satu kata untuk kedzoliman yakni: Lawan!

Jika kita bersatu dalam kebaikan niscaya pertolongan Allah akan memenangkan kita

Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata [Q.S. Al Fath: 1]

Senin, 18 April 2016

Perkara Niat (Bagian 1)

(Sumber gambar : Google)

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Mungkin tidak asing di telinga kita mendengar ceramah atau kultum dengan hadits berikut. Hadits di atas memang sudah umum sekali terdengar, bahkan dalam sebuah kitab arba'in karangan imam An Nawawi atau yang sering juga dikenal dengan kitab 40 hadits. Di dalam buku tersebut hadits tentang niat ini menjadi bagian pertama. Karena imam An Nawawi memahami bahwa niat merupakan dasar dari segala perbuatan.


Meski sering terdengar namun beberapa di antara kita masih belum terlalu memahami mengenai perkara niat. Untuk itu mimin akan sedikit berbagi pemahaman mimin mengenai niat. Sebenarnya hadits di atas sudah cukup jelas menjelaskan bahwa niat itu menentukan apa yang kita dapat dari sebuah amal yang kita perbuat. Tapi mari kita bahas lebih dalam dengan logika yang sederhana.

Zero plus zero can not possibly ever give you one, jadi 0+0 tak akan pernah menghasilkan angka apapun 0+1 tak akan menambah apapun, segala yang dikalikan nol tak akan menghasilkan angka selain nol. Kemudian dalam hukum newton satu  yang sering kita pelajari di sekolah intinya adalah apabila resultan gaya yang bekerja adalah nol maka benda itu diam. Artinya apabila benda itu tak di beri dorongan maka benda diam itu akan tetap diam. Bahkan tulisan ini tidak akan ada di blog saya bila saya tak mengetik dan menekan tombol publikasi.

Dari situ dapat kita simpulkan bahwa sesuatu tidak akan bisa terjadi tanpa ada dasar yang membuat itu terjadi. Bagitulah perkara niat, niat merupakan langkah awal dari segala perbuatan. Selanjutnya, percayakah anda bahwa niat itu akan menentukan proses dan hasil yang akan  terjadi? jika tidak percaya mari kita buktikan dengan studi kasus sederhana. Bila kita memerintahkan otak kita untuk menggerakan tangan mungkinkah yang bergerak malah telinga? mungkin saja bila saraf geraknya rusak, namun jika manusia normal dalam ilmu biologi bila kita memerintahkan tangan tuk bergerak maka yang bergerak pastilah tangan. Jadi, seperti itulah niat.

Masih kurang puas? mari lanjut ke studi kasus berikutnya. Jika kita mengerjakan soal matematika kita diberikan soal seperti berikut 7+7=.... namun yang kita kerjakan malah 6+7=... maka jawaban yang kita berikan pasti salah kan? yang ditanya apa? yg di jawab apa?-_- atau yang lebih sederhana kita di suruh mengerjakan soal matematika tapi yg kita kerjakan soal biologi, haha tentu saja salah total cuy. okeh sampai di situ sudah paham? mungkin ada yang masih bingung, mari lanjut ke studi kasus yang lain. Kita aplikasikan masalah niat ke dunia bahasa pemrograman sederhana. Di dalam bahasa pemrograman sederhana ada input, proses dan output. Kita misalkan niat itu sebagai input. Jika kita di minta memasukan suatu input dengan ketentuan yang sudah ada tapi input yang kita masukan salah/berbeda dari yang di minta. Sudah dipastikan proses dan output akan berbeda, bahkan bisa jadi output error.

Jadi, dapat kita simpulkan bahwa niat merupakan otak dari segala perbuatan. Jadi jika tak ingin jadi orang yang merugi, maka luruskan niat. Bila hati ikhlas melakukan sesuatu. Maka proses yg kita hadapi akan mudah kita laksanakan, dan hasil yg kita dapat akan sesuai dengan apa yg di niatkan. Sebaliknya bila niat tak baik, maka proses yg di jalani pun akan sulit, dan hasil yg di dapat tak akan menentramkan hati.

By Muhammad Arif Zulfikri

Minggu, 03 Januari 2016

La Tahzan

(Sumber gambar : Google)

La Tahzan

Jangan bersedih wahai saudaraku, ingatlah bahwa ada yang selalu bersamamu.

Pernahkah terbesit dalam pikiranmu rasa putus asa, galau,resah, gelisah dan beban pikiran lainya? Sudah pasti sebagai manusia biasa pernah merasakan itu. Tidak di pungkiri lagi bahkan seorang manusia yang hebat pun pasti pernah merasakanya. Itu membuktikan bahwa manusia tidak lebih sempurna dari yang menciptakanya.

Sesuatu yang di ciptakan di dunia ini adalah berpasang-pasangan. Hidup dan mati, laki-laki dan perempuan, gelap dan terang, dunia dan akhirat. Semua itu diciptakan seimbang berpasang-pasangan.

Setiap manusia membutuhkan sandaran, karena seorang manusia tidak akan bisa hidup sendiri. Setiap manusia butuh tempat singgah, butuh tempat istirahat, membutuhkan seseorang berada bersamanya. Namun ada kalanya sahabat, keluarga, atau siapapun itu tidak bisa sepenuhnya berada bersama kita. ‘Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati’hal ini membuktikan bahwa apa yang bisa kita indra tak selamanya abadi berada bersama kita.

Lantas apa yang akan abadi bersama kita? Yang selalu ada dikala apapun keadaan kita? Yang selalu bersedia mendengarkan keluh kesah kita tanpa lelah? Satu-satunya jawaban intuk semua pertanyaan –pertanyaan itu adalah Allah SWT. Kita tak dapat menyentuh atau mengindra-Nya namun selalu ada bersama kita. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang ada bersama kita bahkan lebih dekat dari urat nadi kita.

Maka dari itu percayalah setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Percayalah bahwa Allah selalu ada seperti janjinya dalam Al-Quran ‘Jangan bersedih sesunggunya Allah bersama kita’ (At Taubah: 40). Maka kesimpulanya adalah jika ingin jalan kita dimudahkan maka dekatlah kepada Allah SWT. Seperti ketika kamu ingin mendapatkan cinta seorang wanita ataupun pria yang kau sukai, maka dekatilah ia jika kau ingin dapatkan cintanya. Terlebih kepada Allah, jika ingin dapat petolongan-Nya ataupun kemudahan dari-Nya maka dekatkanlah diri dengan Allah SWT. Apapun itu yang kau minta, jodoh, rezeki, dan lain sebagainya. Insya Allah jika itu baik bagimu, Allah akan mengijabah doamu asal kau dekat dan taat kepadanya.

Berikut adalah langkah-langka sederhana tuk dekat dengan Allah. Jika ada penyakit maka akan ada penawarnya.

1.       Jika kau merasa tak bahagia, maka laksanakanlah sholat di awal waktu.
2.       Jika kau sakit, berpuasalah.
3.       Jika merasa rezeki sempit, maka bersedekah.
4.       Jika marah, berwudhulah.
5.       Ketika hati gelisah, selalu berdoa dan beribadah.
6.       Jika wajahmu gelap, perbanyak sholat malam.
7.       Jika merasa jiwamu tertekan, perbanyak ber dzikir.
8.       Jika hatimu sempit, luangkanlah waktu tuk membaca Al-Quran
9.       Jika merasa hidupmu berat dan penuh dengan cobaan, ingatlah ‘Aku tidak akan membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupanya’(Al Baqarah: 286)
10.   Jika merasa pikiranmu kusut dan hati tak tenang, ‘Hanya dengan mengingatku hati menjadi tenang’ (Ar Radd: 28)
11.   Jika kamu merasa sendiri dan tak ada yang dapat menolongmu, ‘Bedoalah (mintalah) kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan’ (Al Ghafir: 60)
12.   Jika sedih, ‘Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita’ (At Taubah: 40)
13.   Jika kepalamu sakit, ‘Dan apabila aku sakit, maka Dia lah yang akan menyembuhkan penyakitku’(Asy Syu’ara: 80)
14.   Jika merasa kesusahan, ‘Maka sesungguhnya disetiap kesulitan pasti ada kemudahan’(Al Insyurah: 5)
15.   Jika merasa apa yang kau perbuat semuanya sia-sia, ‘Siapa yang mengerjakan kebajikan sebesar zarrah sekalipun, niscaya ia akan melihat balasanya’(Al Zalzalah: 7)

Ketika menanam buah mangga maka akan tumbuh pohon mangga. Apa yang kau tanam maka itulah yang kau dapat. Jika berperasangka baik kepada orang lain, niscaya orang lain juga akan berperasangka baik terhadapmu. Dan cintailah Allah , maka Allah akan mencintaimu sebagaimana kamu mencintainya.

Terimakasih wassalam :D


Di tulis oleh : Muhammad Arif Zulfikri

Selasa, 29 Desember 2015

Cerita Ashabul Ukhdud dalam Surah Al Buruj





(Sumber gambar : Google)

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Terimakasih untuk yang sudah ingin berkunjung di blog ini. Ini merupaka postingan pertama dalam blog ini. Nah, berhubung judul blog ini adalah Gugusan Bintang. Saya akan memberikan sebuah cerita dalam Al- Quran surah Al-Buruj (Gugusan Bintang). Hmm, penulis saat pertama kali membuat blog ini seketika terbesit dalam pikiran membuat judul blog dengan nama surah dalam Al-Quran. Entah kenapa saat itu terpikir untuk menuliskan judul Gugusan Bintang.

Dan saya teringat dengan sebuah cerita dibalik saya menuliskan judul Al-Buruj (Gugusan Bintang) ada sebuah cerita menarik di dalam nya. Yakni cerita tentang Ashabul Ukhdud, cerita ini mengenai seorang pemuda yang taat dan berani karena Allah SWT. Sebelum kita mengetahui ceritanya alangkah baiknya kita terlebih dahulu membaca dengan seksama surah ke 85 dalam Al-Quran ini :
1.     Demi langit yang mempunyai gugusan bintang,
2.    dan hari yang dijanjikan,
3.   dan yang menyaksikan dan yang disaksikan.
4.   Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit,
5.    yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar,
6.     ketika mereka duduk di sekitarnya,
7. sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.
8.   Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji,
9.  Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.
10. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.
11. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.
12.   Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras.
13. Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali).
14.   Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih,
15.   yang mempunyai 'Arsy, lagi Maha Mulia,
16.   Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.
17.   Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang,
18.   (yaitu kaum) Fir'aun dan (kaum) Tsamud?
19.   Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan,
20.   padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka.
21.   Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia,
22.   yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.

Baiklah berikut kisah Ashabul Ukhdud yang telah saya kutip dari website http://www.islamic-world.net

            Diterangkan dengan jelas oleh Nabi kita Muhammad s.a.w dalm hadith baginda seperti                         berikut ;

Shuhaib bin Simaan Arrmmi ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Di masa dahulu ada seorang raja (Yahudi) yang mempunyai seorang yang ahli sihir, kemudian ketika ahli sihir telah tua ia berkata kepada raja: "Kini aku telah tua dan mungkin telah dekat ajalku, karena itu anda kirim kepadaku seorang pemuda yang dapat aku ajarkan kepadanya ilmu sihir"

Maka raja berusaha mendapat seorang pemuda untuk mempelajari ilmu sihir itu, sedang di tengah jalan antara tempat ahli sihir dengan rumah pemuda itu ada tempat seorang pendeta (ahli ibadah) yang mengajar agama, maka pada suatu masa pemuda itu singgah di tempat pendeta untuk mendengarkan pengajiannya, maka ia tertarik dengan ajaran pendeta itu sehingga jika ia terlambat datang kepada ahli sihir dia akan dipukul, dan bila terlambat kembali ke rumahnya juga dia dipukul, maka ia mengadu tentang kejadian itu kepada pendeta.

Maka diajar oleh pendeta jika terlambat datang kepada ahli sihir supaya berkata aku ditahan oleh ibuku, dan bila terlambat kembali ke rumah katakan: Aku ditahan oleh ahli sihir.

Maka berjalan beberapa lama kemudian itu, tiba-tiba pada suatu hari ketika ia akan (hendak) pergi, mendadak (tiba-tiba) di tengah jalan ada seekor binatang buas sehingga orang-orang (ramai) tidak berani jalan di tempat itu, maka pemuda itu berkata: "Sekarang aku akan mengetahui yang mana lebih yang lebih baik di sisi Allah apakah ajaran pendeta atau ajaran ahli sihir", lalu ia mengambil sebutir batu dan berdoa "Ya Allah jika ajaran pendita itu lebih baik di sisimu maka bunuhlah binatang itu supaya orang-orang dapat lalu lalang di tempat ini".Lalu dilemparkanlah batu itu, dan langsung terbunuh binatang itu. Dan orang ramai gembira karena telah dapat lalu lintas di jalan itu.

Maka ia langsung memberitakan kejadian itu kepada Rahib (pendita), maka berkatalah Rahib itu kepadanya : "Anda kini telah afdhat (pesan) daripadaku, dan anda akan diuji, maka jika diuji jangan sampai menyebut namaku". Kemudian pemuda itu dapat menyembuhkan orang buta dan sopak dan berbagai macam penyakit yang berat-berat pada semua orang.

Ada seorang pembesar dalam majlis raja dan dia telah buta karena sakit mata, ketika ia mendengar berita bahwa ada seorang pemuda dapat menyembuhkan pelbagai macam penyakit maka ia segera pergi kepada pemuda itu sambil membawa hadiah yang banyak, sambil berkata: "sembuhkan aku, dan aku sanggup memberikan kepadamu apa saja yang anda suka".

Jawab pemuda itu: "Aku tidak dapat menyembuhkan seseorang pun sedang yang menyembuhkan hanya Allah azza wajalla, jika engkau mahu beriman (percaya) kepada Allah, maka aku akan berdoa semoga Allah menyembuhkan mu".

Maka langsung dia beriman kepada Allah dan didoakan oleh pemuda dan seketika itu juga ia sembuh dengan izin Allah s.w.t.

Kemudian ia kembali ke majlis raja sebagaimana biasanya, dan ditanya oleh raja
"Hai Fulan siapakah yang menyembuhkan matamu" Jawabnya "Rabbi (Tuhanku)".
Raja bertanya: "Aku?".
Jawabnya "Bukan, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu iaitu Allah".
Ditanya oleh Raja "Apakah anda mempunyai Tuhan selain Aku?"
Jawabnya "Ya, Tuhan ku dan Tuhanmu ialah Allah".

Maka disiksa oleh raja seberat-beratnya siksa sehingga terpaksa ia memberitahu raja itu akan pemuda yang mendoakannya untuk sembuh itu.

Maka segera dipanggil pemuda itu lalu berkata "Hai anak sungguh hebat sihirmu sehingga dapat menyebuhkan orang buta dan sopak dan berbagai macam penyakit"

Jawab pemuda itu "Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun, hanya semata-mata Allah azza wa jalla". Raja itu pun bertanya "Adakah aku?", "Tidak" jawab permuda itu. maka tanya raja itu "Adakah engkau ada tuhan lain selain aku?" Jawab pemuda "Ya, Tuhanku dan Tuhanmu hanya Allah". Maka pemuda itu ditangkap dan disiksa seberat-beratnya sehingga terpaksa dia menunjukkan pada Rahib yang mengajarnya. Maka dipanggil Rahib dan dipaksa untuk meninggalkan agamanya, tetapi Rahib tetap bertahan dan tidak mahu beralih agama, maka diletakkan gergaji di atas kepalanya dan digergaji dari atas kepalanya hingga terbelah dua badannya.

Kemudian kembali pemuda itu diperintah untuk meninggalkan agama yang dianutnya (agama Islam), tetapi pemuda ini juga menolak perintah raja, Maka raja memerintahkan supaya pergi ke puncak gunung dan di sana juga supaya ditawarkan kepadanya untuk meninggalkan agamanya dan mengikuti agama raja, jika tetap menolak supaya dilempar dari atas gunung itu, maka ketika telah sampai di atas gunung dan ditawarkan kepadanya pemuda untuk berubah agama, dan ditolak oleh pemuda itu. Kemudian pemuda itu berdoa "Allahumma ikfinihim bimaa syi'ta: (Ya Allah selesaikanlah urusanku dengan mereka ini dengan aku sehendak-Mu)". Tiba-tiba gunung itu bergoncang sehingga mereka berjatuhan dari atas bukit dan mati semuanya, maka segeralah pemuda itu kembali menemui raja, dan ketika ditanya: "Manakah orang-orang yang membawamu?". Jawabnya: "Allah yang menyelesaikan urusan mereka".

Lalu pemuda itu diperintah untuk membawanya ke laut dan naik perahu, bila telah sampai di tengah laut ditanyakan padanya jika ia mau mengubah agama, jika tidak maka lemparkan ke dalam laut dan ketika telah sampai di tengah laut pemuda itu berdoa: "Allahumma ikfinihim bimaa syi'ta", maka tenggelamlah orang yang membawanya semuanya dan segeralah pemuda kembali menghadap raja. Dan ketika ditanya oleh raja "Bagaimana keadaan orang-orang yang membawamu?" Jawabnya: "Allah yang menyelesaikan mereka".

Kemudian pemuda itu berkata kepada raja "Engkau takkan dapat membunuhku kecuali jika engkau menurut perintahku maka dengan itu engkau akan dapat membunuhku" Raja bertanya: "Apakah perintahmu?" Jawab pemuda: "Kau kumpulkan semua orang di suatu lapangan, lalu engkau gantung aku di atas tiang, lalu anda ambil anak panah milikku ini dan kau letakkan di busur panah dan membaca: Bismillahi Rabbil ghulaarn (Dengan nama Allah Tuhan pemuda ini), kemudian anda lepaskan anak panah itu, maka dengan itu anda dapat membunuhku". Maka semua usul pemuda itu dilaksanakan oleh raja, dan ketika anak panah telah mengenai pelipis pemuda itu ia mengusap dengan tangannya dan langsung mati, maka semua orang yang hadir berkata: "Aamannaa birrabil ghulaam (Kami beriman kepada Tuhannya pemuda itu)". Sesudah itu ada orang memberitahu kepada raja bahwa semua rakyat telah beriman kepada Tuhannya pemuda itu, maka bagaimanakah usaha untuk menghadapi rakyat yang banyak ini. Maka raja memerintah supaya di setiap jalan digali parit dan dinyalakan api, dan tiap orang yang berjalan di sana, dan ditanya lentang agamanya, jika ia telap setia pada kami biarkan, tetapi jika ia tetap percaya kepada Allah masukkanlah ia ke dalam parit api itu.

Maka adanya orang berjejal-jejal (berbaris-baris) dorong mendorong yang masuk di dalam parit api itu, sehingga tiba seorang wanita yang menggandong(membawa) bayinya yang masih menyusu, ketika bayinya diangkat oleh pengikut-pengikut raja untuk dimasukkan kedalam parit berapi itu, wanita itu hampir menurut mereka berganti agama karena sangat belas kasihan pada anaknya yang masih kecil itu, tiba-tiba anak bayi itu berbicara dengan suara lantang: "Sabarlah hai ibuku karena kau sedang mempertahankan yang hak.
(H.R. Ahmad, Muslim dan Annasa'i)

Berkata Ibnu Abbas kisah ini berlaku 70 tahun sebelum Nabi saw.

 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Semoga cerita tersebut dapat menginpirasi kita pemuda-pemuda muslim penerus agama Allah dan rasulnya ini

                Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh